Air Mata Ibu

2004 — 24 menit
Sebuah film riset lapangan tentang kegagalan program KB di Nusa Tenggara Timur dengan tingkat kematian ibu dan anak tertinggi di Indonesia.
Air Mata Ibu
Akses film ini
Sekilas tentang film

Film ini menyingkap kegagalan program Keluarga Berencana (KB) pada awal tahun 2000-an dengan berfokus pada kesulitan yang dihadapi para perempuan-perempuan pengguna alat KB di Nusa Tenggara Timur. Dampak yang dialami oleh mereka beragam, mulai dari pendarahan berat sampai kematian sang ibu dan anak. Nusa Tenggara Timur memiliki angka kematian ibu dan anak tertinggi di Indonesia pada saat itu. Minimnya dukungan biaya serta sistem dan tenaga kesehatan yang kompeten membuat kondisi semakin pelik. Film ini merupakan riset lapangan dengan menggabungkan testimoni para perempuan pengguna alat KB dan pengamat kesehatan dengan tangkapan kamera yang menggambarkan kehidupan keluarga serta kesibukan di klinik-klinik desa.

Pemeringkatan Umur13+
Bahasa AsliIndonesia

Detail Film

WarnaWarna
SuaraStereo
Format TersediaDigital File
Resolusi GambarSD
Rasio Gambar4:3
Negara ProduksiIndonesia
Provinsi ProduksiNusa Tenggara Timur
Rumah ProduksiCangkir Kopi Mediavisual
Tim ProduksiM. Abduh Aziz (Produser)Ramdan Panigoro (Penata Gambar)
  • Shamir (Penata Kamera)
  • Icang S. Tisnamiharja (Produser Lini)
  • Herman Qiwari (Manajer Produksi)
  • Joko H. Gombloh (Penata Musik)
    Edisi Festival
    • FFD 2005 — Kompetisi | Seleksi Resmi
      Foto Film

      Catatan Pengelola

      Gaya DokumenterEkspositoris
      TemaMasyarakat, Politik & Kekuasaan
      TopikIsu Perempuan, Kesehatan Fisik, Kebijakan Pemerintah
      Mata Pelajaran RelevanBiologi, Antropologi, Sosiologi
      Mata Kuliah RelevanKedokteran, Biologi, Farmasi, Gizi dan Nutrisi, Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Antropologi, Sosiologi, Politik, Pemerintahan

      Referensi yang bisa digunakan

      Film dalam set tema yang sama

      • Budiyanto
        Bersekolah di sekolah inklusi membuat Salma (12 tahun) menemukan kesulitan untuk beradaptasi dengan teman sekelasnya yang berkebutuhan khusus. (*)
      • Agustinus Saputra
        Bagaimana kehidupan para penambang batu? (*)
      • Ima Puspita Sari
        Sepanjang film kita akan diajak untuk mengikuti perjalanan Wasis dalam upayanya membagkitkan program Jam Belajar Masyarakat yang sempat terhenti pasca-reformasi.