Dance of Life

2008 — 8 menit
ab
Editorial
Marie-Christine Mouis, 51 tahun, didiagnosa mengidap penyakut langka, Ataxia, yang menyerang saraf-saraf motoriknya, sehingga dia harus berjuang keras untuk melakukan kegiatan sehari-seharinya. (*)
Sinopsis

Marie-Christine Mouis, 51 tahun, didiagnosa mengidap penyakut langka, Ataxia, yang menyerang saraf-saraf motoriknya, sehingga dia harus berjuang keras untuk melakukan kegiatan sehari-seharinya. Melihat Marie-Christine pada masa jayanya sebagai seorang prima ballerina dunia dimana dia pernah menarikan repertoar-ballet bersama penari kelas dunia seperti Rudolf Nuriyeve, kita akan melihat berapa dia tidak pernah berhenti menari. Kini tarian kehidupannya adalah tanda semangatnya untuk terus hidup dan melindungi anaknya, Anabelle Mouis, 10 tahun.(*)

Pemeringkatan Umur

SU

Sutradara

Iin Purwanti

Bahasa Asli

Inggris

Takarir

English

Detail Film

Warna

Warna

Suara

Stereo

Format Tersedia

Digital File

Resolusi Gambar

480p

Rasio Gambar

4:3

Negara Produksi

Amerika Serikat

Rumah Produksi

Sawunggue Films

Distributor

Sawunggue Films

Tim ProduksiIin Purwanti, Zaza A. Martohardjono (Penata Kamera)Iin Purwanti (Penata Gambar)
Edisi Festival
  • FFD 2008 — Kompetisi | Seleksi Resmi
Foto Film
Gaya Dokumenter

Performatif

Tema

Manusia & Masyarakat, Seni

Topik

Disabilitas, Cinta, Pekerjaan, Hobi, Tari

Mata Pelajaran Relevan

Seni Budaya, Bahasa Inggris, Psikologi

Mata Kuliah Relevan

Seni Pertunjukan, Pendidikan, Film dan Pertelevisian

Film dalam set tema yang sama

  • On Broadway #1

    Aryo Danusiri
    Film ini tentang sebuah masjid di tengah Manhattan, Kota New York, AS, bertujuan untuk memberikan gambaran kompleks mengenai muslim Amerika di luar reproduksi imajinasi kekerasan 9/11 dari media massa.(*)
  • After Multatuli Left

    Yogi D. Sumule
    Menggunakan novel Max Havelaar karya Multatuli sebagai pijakan, film ini melacak warisan sastra bersejarah dan mengamati perubahan kehidupan warga di Lebak, Banten.
  • Women of Sumba Land

    Lasja Fauzia Susatyo
    Layaknya logam yang memiliki 2 sisi, perempuan Sumba memiliki peranannya tersendiri di tatanan masyarakat. Di mana hieraki patriarki diterapkan di setiap lini adat dan tradisi yang diperkuat dengan adanya belis. Film ini memperlihatkan perempuan hanya sebagai sosok yang hanya selalu di belakang. Perspektif tersebut mulai bergeser dalam arus modern dan pendidikan.

Tertarik dengan film ini?

Segera hadir

Data film ada yang salah/kurang lengkap?

Ajukan Revisi

Catatan Pengelola

Pengklasifikasian film yang muncul di sini ditentukan oleh tim pengelola database FFD setelah film ditonton dan didiskusikan secara internal.

Apabila menurut Anda, selaku pembuat film di atas, klasifikasi serta data lain yang muncul pada halaman ini kurang tepat, silahkan ajukan revisi melalui tombol ‘Ajukan Revisi’ yang tersedia pada halaman film ini atau hubungi arsip@ffd.or.id dengan judul “Revisi Data – [Judul Film].