“Homebound”, Dokumenter Animasi Kisah Pekerja Migran di Taiwan

Sutradara Ismail Fahmi Lubis kembali merilis dokumenter bertema pekerja migran. Jika pada 2020, ia merilis dokumenter “Help Is On The Way”, kali ini Ismail bekerja sama dengan Wulang Sunu untuk menggarap dokumenter animasi berjudul “Homebound“.

Dalam dokumenter yang masih mengangkat kisah tentang pekerja migran di Taiwan itu, Ismail menyoroti secara khusus perjalanan Tari, dari awal kedatangan bekerja di sektor informal di pabrik baja hingga terakhir bekerja di panti jompo.

Dokumenter animasi “Homebound” menyoroti hubungan personal Tari dan dinamikanya dengan keluarganya di Indonesia, termasuk dengan anak dan ibunya. Naskah film ini ditulis oleh Tari sendiri, yang juga muncul di dokumenter “Help Is On The Way”.

“Ketika bikin “Help Is On The Way”, ada 1001 kisah yang kalau diangkat ke dalam film itu tidak ada putusnya. Baik dari sisi keluarga maupun yang lainnya. Otomatis saya memikirkan ketika bikin “Help Is On The Way”, yang tidak tersampaikan di film itu saya wujudkan di “Homebound”, utamanya soal hubungan ibu dan anak,” kata Ismail dalam konferensi pers virtual, Selasa, (22/2).

Tari berangkat ke Taiwan hingga tiga kali. Ia dipulangkan pertama kali karena meminta haknya yang tidak diberikan. Tidak kapok, ia kembali lagi untuk bekerja di sektor pekerja rumah tangga. Selama 10 tahun lebih, dirinya pun jauh dari keluarga dan kehilangan momen-momen bersama sang anak.

“Taiwan itu ya tidak seindah foto profil di media sosial. Ketika dulu pertama kali saya berangkat pada 2012 saya harus bayar Rp30 juta. Kerja dobel, di pabrik baja dan nyuci truk. Selama setahun awal harus terus lembur tapi tidak mendapatkan apa-apa. Itu jadi pelajaran penting bagi saya,” kata Tari dalam kesempatan sama dengan Ismail.

Tari berpesan ke sesama pekerja migran Indonesia untuk ekstra teliti mengenai kondisi kerja sebelum berangkat ke negara tujuan. Para pekerja migran juga harus benar-benar siap dengan kondisi yang bakal dihadapi. Di samping itu, dia juga berharap peraturan perundangan pemerintah bisa menjadi payung perlindungan bagi para pekerja migran Indonesia.

Lebih lanjut, Ismail mengatakan salah satu alasannya menjadikan “Homebound” ke medium dokumenter animasi lantaran pembatasan yang diterapkan di Taiwan sehingga tidak memungkinkan dirinya mengambil gambar dengan maksimal.

“Ini (dokumenter animasi) jadi hal baru di Indonesia. Masih belum masif. Meski di negara lain sudah biasa. Biasanya mereka yang enggak bisa masuk ke wilayah tertentu atau mengenai tema masa lalu, mereka bikin animasinya. Dan itu alasan yang hampir sama dengan kami ketika tidak bisa ke Taiwan akibat pembatasan pandemi. Memang tergantung penontonnya kalau suka animasi ya. Cuma bagi saya the real picture masih yang terbaik. Tapi tentu yang paling penting lagi adalah isunya,” sambung peraih Piala Citra Dokumenter Panjang Terbaik FFI 2019.

Dalam proses pembuatannya, Ismail dan Wulang Sunu sebagai animator juga berkunjung ke kampung halaman Tari untuk merekam keluarga Tari dan lanskap rumahnya. Wulang Sunu pun menambahkan dengan medium animasi, memungkinkan untuk menghadirkan adegan yang tidak mungkin dihadirkan jika dengan syuting.

“Sependek dari beberapa pengalaman saya terlibat produksi film animasi, medium ini justru memberikan ruang sendiri untuk bereksplorasi pada adegan-adegan yang ada, dan bisa dikemas dengan menarik. Tapi tentu tetap sesuai konteksnya.” (M-1)