Lokasi yang Bersanding dengan Kebijakan Pengarang

Film, dalam kesejarahannya selalu terikat dengan infrastruktur pemerintah, sekolah, industri media, atau berbagai jenis “institusi”, hingga tak ada peluang untuk keluar dari mekanisme legitimasi itu. Tirani industri dan juga institusi-institusi mapan memainkan peran dominasi secara menyeluruh di dalam setiap sendi produksi film. Sebenarnya, sesuatu di luar itu, atau sebut saja ranah marjinal dalam pengertian non-industri, yaitu komunitas, hadir.

Film-film dalam kuratorial Candrawala tahun ini, secara implisit dan eksplisit, bukan hanya berdiri sendiri sebagai ekspresi kekaryaan. Mereka juga hadir untuk memperlihatkan unsur-unsur pembentuknya, tak hanya mekanisme teknologisnya melainkan juga tempat di mana mekanisme itu berpijak. Film-film ini mencoba memoderasi dialog antara otonomi tempat, atau apa yang ada di depan kamera dan kontrol, yang ada di belakang kamera. Dialog antara kontrol urutan filmis dan lokasi menjadi “rekanan” yang intim untuk produksi ide.

Jika dalam pembacaan Candrawala tahun lalu, lanskap mewadahi semuanya, sampai membunuh kepengarangan, kini konsep lanskap makin berkembang justru dengan cara mengerucut. Lanskap di sini mengalami pembesaran (zoomed in) menjadi “lokasi”. Secara spesifik terjadi perincian hingga ke unit-unit pembentuk lokasi. Sebagai contoh, salah satu unit tersebut adalah bunga sedap malam. Dalam film ‘Sedap Malam (Agave Amica)‘, bunga ziarah tersebut bersirkulasi membentuk siklus peradaban yang dijeda, bahkan dihentikan, oleh wabah Covid-19. Sedap malam menjalin interaksi antara manusia, sebagai unit pembentuk lokasi, dan alam, sebagai lokasinya, dengan montase kewajaran sebuah interaksi: para penggali kubur yang menikmati rehat makan di atas gundukan tanah kuburan. Imajinasi tentang lokasi tercipta melalui siklus dan sirkulasi objek.

Contoh lain dari unit pembentuk lokasi adalah batu dan pasir. Film ‘Pasir yang Terbawa Arus dan Menyelinap di Sela Jemari’ menekankan intervensi sutradara terhadap lokasi alamiah dengan membuka film menggunakan dinamika objek statis yang dinamis: batu dan pasir yang dimanipulasi oleh kerja sinematografis. Dalam narasi, batu dan pasir dihidupkan dengan kata ganti aku, yang memiliki sejarah sirkulasi geologis, dari erupsi gunung berapi, sampai ke takdir yang ditentukan oleh campur tangan manusia dan mesin. Lokasi dipahami sebagai proses yang terus membentuk diri.

Sebuah gedung bioskop tua sebagai unit lokasi kembali dipersonifikasi dalam film ‘What Eri Testifies at the End of the Roll’. Gedung ini memang memiliki personae bernama Feri, di masa Orde Lama, dan menjadi Eri, di masa Orde Baru hingga sekarang. Lokasi dalam film ini dikurung dalam bangunan sejarah sinema, hingga dalam beberapa adegan, lokasi dibiarkan menceritakan tentang dirinya sendiri. Cerita itu melintasi beberapa rezim–politik dan sinema–bahkan sampai terjungkal di masa sekarang lewat proyeksi adegan film yang terbalik.

Dalam film ‘Nisan Tak Terukir’, batu nisan menjadi penghubung manusia di lokasi kini dengan sejarah masa lalu bromocorah. Residu bromocorah “sekarang” tergambar lebih berinteraksi dengan lokasi alam–sawah atau kebun, bahkan kuburan–– daripada dengan manusia lainnya. Interaksi unit lokasi dengan lokasinya bersifat langsung. Sinema hanya menunjukkan manifestasinya. Kembali, peran batu nisan sebatas ikon dari kematian, dan yang mati tidak bisa menunjukkan dirinya, butuh klaim dari yang hidup.

Dalam film ‘YK48’, lokasi keluar dari agregat penentuan konsepnya, bergantung pada pancaran antusiasme terhadap semua peristiwa yang ada di atas lokasi tersebut. Imajinasi lokasi (Kota Yogyakarta) kemudian melebur bersama pertemuan budaya sinema antar komunitas pasca-Reformasi. Pertemuan tersebut memunculkan imajinasi lokasi yang dibentuk oleh keagensian tanding terhadap pusat (ibukota). Lokasi dapat berbicara di luar kemampuan pengarangnya sendiri. Lokasi menampakkan keagensiannya sendiri.

Hampir seperempat abad Reformasi, geliat komunitas berkelit dari sensor, yang sedari rezim sebelumnya menghantui sinema Indonesia, pun menghancurkan legitimasi tunggal-institusional. Estetika film indonesia dalam seperempat abad Reformasi dibangun bukan sepenuhnya oleh semangat modern yang selalu menggunakan sarana ekspresi individual. Estetika film Indonesia hadir oleh keagensian komunal yang berdialog dengan tempat berpijaknya, karena semangat komunal sesungguhnya adalah DNA masyarakat tropis. Individu-individu tropis selalu kembali ke lokasi, sedangkan lokasi yang bersifat otonom-relatif mampu bersanding dengan kejeniusan pengarangnya, menciptakan lanskap sosial-budaya.