Membuka Mata dan Hati ‘Setelah Multatuli Pergi’

Multatuli dengan “Max Havelaar”-nya jadi jendela memahami arti kolonialisme. Dokumenter ini menyajikan sudut lain yang tercecer setelahnya.

Hari ini, 19 Februari 2021, tepat 134 tahun wafatnya Eduard Douwes Dekker atau kondang dikenal dengan nama penanya, Multatuli. Novelnya yang terbit pada 1860, ‘Max Havelaar’, ramai diperdebatkan dan digunjingkan secara teknis maupun substantif. Ironisnya rakyat Lebak yang jadi objek cerita novelnya justru minim perhatian.

Kekosongan itulah yang coba ditutup oleh film dokumenter ‘Setelah Multatuli Pergi‘ (2020). Film tersebut berangkat dari impian seorang Belanda bernama Arjan Onderdenwinjgaard, wartawan lepas Katholieke Radio Omroep yang pada 1980-an ke Indonesia dan blusukan ke Kabupaten Lebak. Beberapa hasil footage yang diambilnya kala itu turut dijadikan “bahan jahitan” dalam ‘Setelah Multatuli Pergi’ yang penggarapannya dibantu oleh sineas Yogi D. Sumule.

Film berdurasi 90 menit itu diputar perdana di pendopo Museum Multatuli, Rangkasbitung, Lebak, Banten, secara terbatas pada 7 Maret 2020. Namun, mulai hari ini, Jumat (19/2/2021), film itu bisa disaksikan khalayak lebih luas lewat penayangan secara daring oleh Erasmus Huis Jakarta.

“Kebetulan banyak hal yang kami temui di tahun 1987 masih sangat mirip dengan zamannya Multatuli. Semisal tentang perjalanan kami yang terjebak di lumpur untuk menuju Desa Badur (desa latar belakang kisah Saidjah dan Adinda di Max Havelaar, red.). Seratus tahun lebih setelah Multatuli jalan di sana masih sama,” ujar Arjan dalam dialog sejarah bertajuk “Cerita di Balik Film Setelah Multatuli Pergi” di Youtube dan Facebook Historia.id, Jumat (19/2/2021)

Kondisi desa yang masih relatif sama kendati waktu telah bergeser seabad itulah yang menjadi kegelisahan Arjan. Ia tak peduli banyaknya perdebatan yang mengitari ‘Max Havelaar’, fiktif atau fakta, atau cap terhadap Multatuli apakah dia whistleblower atau sekadar eks-pejabat kolonial yang “julid” terhadap negerinya. Inti keresahannya adalah, tiada satu pun forum-forum semacam itu yang jadi perhatian rakyat Lebak itu sendiri.

“Selama 160 tahun ‘Max Havelaar’ diteliti setiap koma dan titik, di mana itu didiskusikan. Tapi tidak ada yang tanya bagaimana dengan rakyat Lebak? Itu aneh. Karena tanpa rakyat Lebak, tidak akan ada Multatuli dan tidak akan ada Max Havelaar,” kata Arjan.

Padahal, lanjut Arjan, ‘Max Havelaar’ ibarat jendela bagi orang-orang di Belanda untuk memahami tentang arti kolonialisme itu sendiri. Bagaimana Multatuli menggambarkan kolonialisme dari tiga sisi yang mana, warga bumiputera bergulat dengan kehidupannya yang pahit di antara himpitan kolonialisme Belanda dan feodalisme lokal. Hal itu masih terjadi hingga hari ini, mengingat infrastrukturnya masih “11-12” seperti di abad ke-19 dan pemerintahan lokalnya masih dikuasai kaum elite.

Hal itu pula yang membuat Yogi tertarik membantu Arjan dan sejarawan cum Pemimpin Redaksi Historia.id Bonnie Triyana menggarap film tersebut pada 2019. Yogi mengenal Multatuli lewat “perantara” Pramoedya Ananta Toer. Pram merupakan sastrawan yang “menghidupkan” kembali sosok Multatuli lewat karyanya yang ia terbitkan pertama kali dalam bahasa Inggris pada 1999, ‘Best Story; The Book That Killed Colonialism’ (terj. Max Havelaar: Buku yang Membunuh Kolonialisme).

“Saya masih berpendapat bahwa Multatuli besar jasanya kepada bangsa Indonesia, karena dialah yang menyadarkan bangsa Indonesia bahwa mereka dijajah. Sebelumnya di bawah pengaruh Jawanisme, kebanyakan orang Indonesia bahkan tidak merasa bahwa mereka dijajah,” kata Pram mengenang usulannya mendirikan patung Multatuli yang ditolak Presiden Soekarno yang dituangkan dalam ‘Saya Terbakar Amarah Sendirian’.

Menurut Yogi, ada dua faktor yang membuatnya tertarik menyutradarai ‘Setelah Multatuli Pergi’. “Pertama alasannya dari Arjan, soal pertanyaan apa sih yang terjadi dengan warga Lebak pasca-kepergian Multatuli? Lalu dari Bonnie, tentang warga Lebak sepertinya sampai hari ini pun tak bisa berharap banyak dari siapa-siapa, hingga akhirnya mereka kembali ke Tuhan,” kata Yogi.

‘Setelah Multatuli Pergi’ tak hanya menampilkan paparan historis. Pesan yang jauh lebih penting di dalamnya adalah kritiknya. Kritik untuk elite pemerintahan bertujuan agar mereka mau lebih perhatian kepada warga di pelosok Lebak, seperti Desa Badur, misalnya. Lalu, kritik selanjutnya ditujukan untuk masyarakat awam Indonesia dewasa ini, bahwa ada masyarakat sesama warga Indonesia yang berdiam tak jauh dari ibukota, justru punya kehidupan jauh berbeda.

“Kita selama ini terlalu asyik dengan yang di luar jauh dari Jakarta. Kita enggak pernah lihat yang tinggalnya 40 menit dari Jakarta, kalau naik kereta (commuter line). Bahwa ada lho tetangga kita yang menarik untuk dilihat dari sisi itu. Saya begitu duduk ngobrol langsung dengan mereka, ya ampun! Begini banget ya hidup orang-orang Lebak. Ini juga menjadi sindiran kepada kita, kok yang bikin orang Belanda lagi. Harusnya lebih banyak orang Indonesia daripada dianggap enggak peduli sama sejarah dirinya sendiri,” imbuhnya.

Agar Pemikiran Multatuli Lestari

‘Setelah Multatuli Pergi’ secara tak langsung mengajak penontonnya untuk mau membaca ulang ‘Max Havelaar’. Tujuannya untuk mengetahui, memahami, lalu menghidupkan dan melestarikan pemikiran Multatuli. Kendati dikemas dalam fiksi, ia juga mengandung realitas yang bahkan masih terasa sampai hari ini.

Novelis Ayu Utami melihat bahwa film tersebut seakan menegaskan bahwa ‘Max Havelaar’ sebagai karya sastra berasal dari kumpulan cerita faktual yang dibungkus fiksi dan menjadi buah dari sebuah strategi. Strategi untuk memicu perubahan dengan gaya sastra demi bisa diterima semua kalangan, terutama di Belanda.

“Saya jadi ingat zaman Orde Baru. Saat itu ada slogan ‘Ketika pers dibungkam, sastra harus bicara.’ Maka untuk menuliskan sejarah, caranya melalui karya sastra yang bertopeng fiksi agar lebih aman. Kalau buku sejarah kan punya syarat-syarat tersendiri, harus faktual, ada verifikasi dan sebagainya, prosesnya jadi lebih panjang. Sementara esensi pengalaman manusia itu berupa emosi yang subjektif enggak bisa diceritakan. Di situlah orang-orang menempuh jalan sastra atau novel, meski novel belum tentu sepenuhnya fiksi,” Ayu menimpali.

Penulis roman ‘Saman’ (1998) dan ‘Bilangan Fu’ (2008) itu juga melihat ‘Max Havelaar’ semacam otobiografi Multatuli yang difiksikan. Isinya berdasarkan pengalaman Multatuli selama jadi pejabat pemerintahan kolonial di Mandailing Natal, Manado, Ambon, hingga Lebak.

“Jadi pengalaman nyatanya Eduard Douwes Dekker kemudian diolah menjadi kuasi fiksi. Tetapi fiksi itu mampu mengadakan perubahan juga dalam kenyataan. Karena saya melihat Max Havelaar merupakan suatu strategi, suatu kenyataan yang abu-abu dari pengalaman dia sebagai asisten residen. Makanya kini kita sendiri juga harus hati-hati karena sejarah enggak semuanya faktual dan sebuah novel juga belum sepenuhnya fiksi,” tambahnya.

Ayu insaf selama ini nama Multatuli kurang familiar dalam sastra di Indonesia. Penyebabnya antara lain, anggapan bahwa Multatuli adalah seorang yang tak patut dihargai dan dipuja karena dia orang Belanda yang berkarier di pemerintahan kolonial. Oleh karena itu, Ayu ingin menyadarkan generasi muda Indonesia untuk membuang pikiran itu jauh-jauh, karena pemikiran Multatuli terkait kemanusiaan dan anti-kolonialisme justru patut dilestarikan.

“Kebetulan saya ada proyek, namanya Peta Sastra. Mengajarkan orang awam dan anak-anak sekolah untuk bisa memahami sastra sebagai sejarah pemikiran, terutama mengenai kebangsaan. Saya memulainya dengan Multatuli dan Kartini. Kita bisa menggabungkan dua disiplin ini (sejarah dan sastra) untuk melihat bagaimana formasi bangsa ini dari pemikirannya. Dan buat saya, Multatuli harus bisa dibaca dalam pelajaran sastra dan pelajaran sejarah,” lanjut Ayu.

Upaya itu berparalel dengan yang dilakukan Museum Multatuli di Rangkasbitung sejak berdirinya pada 2018. Museum itu sendiri awalnya dikitari kontroversi penolakan berbagai pihak di Lebak karena dianggap mengkultuskan orang asing. Perlahan, museum itu bisa diterima lebih luas tidak hanya sebagai ruang publik yang bisa dinikmati siapapun, namun juga wahana edukasi yang tak melulu tentang Multatuli. Beragam aspek kehidupan terkait sejarah Lebak seperti kisah tokoh Nyimas Gamparan, Pemberontakan Petani Banten pada 1888, atau tokoh-tokoh kondang yang punya kaitan dengan Banten, semisal dewa gitar Eddie van Halen yang ibunya berasal dari Rangkasbitung ikut dipamerkan museum itu.

“Terlepas dari awalnya ada penolakan, bagaimanapun juga kita harus hadir karena museum ini tidak melulu mengkultuskan Multatuli tetapi juga bagaimana (menyampaikan) ide-idenya tentang kemanusiaan, kesetaraan, dan antikolonialisme,” terang Kepala Museum Multatuli Ubaidillah Muchtar.

Museum Multatuli jadi wahana edukasi yang kemudian menutup celah nihilnya pengetahuan tentang sosok Eduard Douwes Dekker di ruang kelas maupun buku pelajaran. Ubay tahu betul bahwa Multatuli tak pernah diajarkan di ranah pendidikan formal, berangkat dari pengalaman Ubay sebelumnya sebagai guru di sebuah SMP di Rangkasbitung.

“Sampai hari ini pun Multatuli belum jadi bacaan wajib di sekolah. Itu jadi PR kita (Museum Multatuli) di Rangkasbitung, di mana anak-anak bisa banyak belajar tidak hanya tentang Multatuli, tetapi juga tentang masuknya dan prosesnya kolonialisme di Nusantara, bagaimana perjuangan orang-orang Banten yang heroik, di mana dimulai dengan kalimat Multatuli bahwa banyak orang Banten mengibarkan bendera pemberontakan terhadap Belanda,” tutupnya.