Muda, Berdaya dan Bersuara: Sesi Tanya-Jawab Program Kompetisi Dokumenter Pelajar FFD 2022

Udara Yogyakarta yang masih dingin selepas diguyur hujan deras nyatanya tak menyurutkan antusiasme para penonton untuk mengikuti pemutaran tiga film pendek dalam program Kompetisi Dokumenter Pelajar Festival Film Dokumenter 2022. Ditayangkan di Bioskop Sonobudoyo, tiga film yang ditayangkan adalah ‘Spinning Yarn’ (2022), ‘Darsan’s Testimony’ (2022) dan ‘Wek Wek’ (2022). Jajaran film yang ditayangkan dalam program ini berasal dari para pembuat film muda yang berstatus pelajar. Selepas penayangan, program diikuti dengan sesi tanya jawab yang dihadiri oleh dua pembuat film: Annisa Rahmasari, sebagai sutradara film ‘Darsan’s Testimony’ (2022) dan Afifah Putri Hidayah, selaku sutradara film ‘Spinning Yarn’ (2022).

Ketika ditanya apa alasan yang mendasari produksi film ini, Afifah mengatakan bahwa banyak yang belum terlalu mengenal tradisi memintal benang atau yang kerap disebut ngantih. Maka, ia ingin mengenalkan tradisi ini kepada masyarakat. “Saya juga baru mengetahui tradisi ngantih ini ketika diminta memproduksi film ini,” ungkapnya.

Berbeda dengan Afifah yang fokus pada bagaimana sebuah tradisi dianut oleh sebuah kelompok masyarakat, Annisa justru ingin mengenalkan seorang sosok yang ia rasa cukup penting. Dalam filmnya, Mbah Darsan yang menjadi subjek sentral dalam film ini yang menyampaikan kisah hidupnya. Kesaksian-kesaksian yang disampaikan Mbah Darsan diharapkan dapat memberikan gambaran kepada para penonton bahwa ada dari mereka yang menjadi tahanan politik tanpa peradilan tahun 1965. “Karena ini (Kesaksian Darsan) murni terjadi, tidak dibuat-buat,” tutur Annisa ketika disenggol sedikit mengenai kekuatan filmnya.

Sebagai sebuah film dokumenter yang dekat dengan subjeknya, terdapat pertanyaan mengenai bagaimana cara mereka mendekatkan diri kepada subjeknya masing-masing. Kedua filmmaker sepakat menjawab, langkah pertama yang dilakukan adalah riset yang diikuti dengan pembangunan komunikasi bersama para subjeknya. Afifah turut menambahkan, selain riset selama satu bulan, ia juga mencari narasumber dengan rentang usia yang berbeda-beda agar informasi yang didapat jauh lebih berwarna dan kompleks.

Di usia yang masih remaja, keduanya sudah mengambil peran sebagai sutradara film dokumenter. Ketika ditanya mengenai kegiatan produksi film-film dokumenter ke depannya, Afifah menjawab ketertarikannya terhadap film dokumenter bukanlah hal yang mudah memudar. Annisa juga memaparkan bahwa pembuatan film adalah proses yang berkesan untuknya. “Proses yang menyenangkan, kalau ada kesempatan bisa saja memproduksi (film dokumenter) lagi,” ucap Annisa.