Resensi Film: ‘Ojek Lusi’

‘Ojek Lusi’ merupakan sebuah film dokumenter tentang dampak dari semburan lumpur panas yang telah menenggelamkan 16 desa di tiga kecamatan belasan tahun yang lalu. Juga usaha para korban yang mencari penghasilan dengan menjadi tukang ojek sekaligus tour guide di daerah “wisata lumpur” itu. Membutuhkan waktu 13 tahun untuk beradaptasi bukanlah waktu yang singkat. Namun, semburan demi semburan lumpur tidak akan pernah dilupakan. Kronologi bagaimana lumpur itu menyembur dan menenggelamkan rumah mereka terus terulang dalam ingatan.

Film dokumenter singkat ini kembali mengingatkan kita terhadap kejadian yang sudah bertahun-tahun lamanya berlalu. Semburan lumpur panas di Sidoarjo yang diakibatkan oleh penambangan gas dan minyak bumi PT. Lapindo Brantas. Peristiwa yang terjadi pada 29 Mei 2006 itu telah memakan banyak korban. Kini oleh warga sekitar, lokasi tersebut telah dijadikan sebagai “Wisata Lumpur Lapindo”. Meskipun begitu, kenyataan bahwa mereka harus hidup berdampingan dengan lumpur panas tak bisa dilupakan begitu saja.

Film yang menggambarkan semangat masyarakat korban lumpur Lapindo ini cocok ditonton oleh semua kalangan, terutama bagi yang ingin mengetahui kondisi kehidupan warga yang tinggal dan bekerja di sana. Film dokumenter ini memperlihatkan bagaimana dahsyatnya semburan lumpur panas serta luasnya wilayah yang terdampak.

Karena beberapa percakapan menggunakan bahasa daerah, film ini dilengkapi subtitle Bahasa Indonesia untuk memudahkan penonton dalam mencerna apa yang dibicarakan oleh tokoh. Hebatnya, Ojek Lusi ini telah meraih penghargaan sebagai film dokumenter terbaik dalam Festival Film Dokumenter (FFD) 2017.

Sayangnya, film yang disutradarai oleh Winner Wijaya ini memiliki alur cerita yang kurang jelas, sehingga sulit dipahami bagi sebagian orang. Hal ini terlihat pada tidak runtutnya pembahasan topik pembicaraan yang dibicarakan oleh tokoh. Film ini juga tidak menceritakan asal usul kejadian semburan lumpur panas tersebut, sehingga membuat sebagian penonton merasa bingung bagi mereka yang belum mengetahui kejadian mulanya. Walaupun begitu, film dokumenter ini tetap menarik ditonton karena memberikan pesan kepada kita bahwa lingkungan adalah sesuatu yang harus dijaga dan dilestarikan demi keselamatan bersama.