‘Wek Wek’ (2022): Pelajaran Hidup dari Pasukan Bebek Sukirman

Lebih dari 300 ekor pasukan bebek keluar dari markas dan buru-buru menyerbu areal persawahan dengan cergas. Mereka berada di bawah komando Sukirman, pria kelahiran tahun 1966 yang sejak dalam kandungan sudah mendapatkan warisan berupa ternak bebek petelur dari kedua orangtuanya. Demi menghidupi bebek-bebeknya yang sudah seperti anak sendiri, Sukirman mesti hidup nomaden selayaknya manusia pada zaman purba, pindah dari satu sawah ke sawah lain yang sedang memasuki fase pascapanen.

Murah dan mudah diperoleh merupakan alasan utama mengapa Sukirman memilih untuk tetap mengembara mencari sawah-sawah bekas panen padi bersama rombongan bebeknya. Dari Cilacap, Banyumas, Kebumen, hingga ke perbatasan Banjar—Pekalongan, pernah ia jajaki. Semuanya demi mencukupi kebutuhan pakan pasukan bebeknya yang mencapai hingga 30 kg per hari. Bagaimana pun, pakan bebek berperan penting dalam mendorong produktivitas telur bebek yang dihasilkan.

Salah satu pakan alternatif utama bebek adalah padi atau gabah. Di areal persawahan setelah musim panen, stoknya tentu melimpah. Selain ngirit, padi juga bergizi bagi bebek karena mengandung serat dan silika yang cukup tinggi. Tak hanya mengenyangkan bagi bebek dan menekan biaya pakan bagi Sukirman, dengan cara ini pula, areal sawah dapat terbebas dari serangan hama sebelum pada akhirnya akan digunakan untuk bercocok tanam lagi.

Dokumenter arahan Lukman Maulana yang berdurasi 9 menit 25 detik ini bergulir dengan halus, berpindah dari sawah tempat rombongan bebek Sukirman sibuk mencari makan hingga ke rumah tempat istri Sukirman mengolah telur-telur bebek mereka menjadi telur asin yang siap diedarkan ke pasaran. Sampai saat ini, telur asin bisa dikatakan termasuk ke dalam salah satu komoditas pangan yang cukup stabil di pasaran. Istri Sukirman tak pernah kehilangan pelanggan. Saban hari, ia ngider, menitipkan dagangannya ke warung hingga pasar. Hampir semuanya selalu ludes terjual.

Istri Sukirman punya formulasi resep tersendiri dalam membuat telur asin. Selama bermalam-malam, telur-telur bebek dibalurinya dengan adonan bata yang telah dicampur dengan garam. Apabila kamu tertarik untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana perbandingan komposisi antara bata dan garam demi menciptakan rasa telur asin yang pas, film dokumenter ini mungkin perlu masuk ke dalam watchlist-mu.

Melalui ‘Wek Wek’, filmmaker berusaha menyuguhkan nilai kesahajaan yang hidup melekat dan menonjol dalam masyarakat menengah biasa. Mereka yang tetap setia pada pekerjaan yang memang telah diwariskan dari generasi sebelumnya. Melalui Sukirman dan pasukan bebeknya pula kita bisa memetik pelajaran bahwa hidup memang tentang bergerak dan berpindah-pindah. Semuanya serba tidak pasti, yang pasti hanya ketidakpastian.