Buruh Seni

2012 — 20 menit
Digie Sigit adalah seorang tokoh yang memiliki pemikiran dan kepeduliannya akan masalah social politik khususnya terhadap buruh dengan cara menghasilkan karya-karya stencil di ruang-ruang public dan berorasi di atas panggung bersama grup musiknya TeknoShit. (*)
Buruh Seni
Akses film ini
Sekilas tentang film

Digie Sigit adalah seorang tokoh yang memiliki pemikiran dan kepeduliannya akan masalah social politik khususnya terhadap buruh dengan cara menghasilkan karya-karya stencil di ruang-ruang public dan berorasi di atas panggung bersama grup musiknya TeknoShit yang mengangkat tema buruh dan solidaritas buruh, karena menurut sang tokoh selama kondisi social politik masih seperti sekarang dan kita di bawah tekanan penguasa maka kita semua adalah seorang buruh termasuk sang tokoh yang menganggap dirinya seorang buruh seni. (*)

Pemeringkatan umur17+
SutradaraEden Junjung
Bahasa asliIndonesia
TakarirEnglish

Detail Film

WarnaWarna
SuaraStereo
Format tersediaDigital File
Resolusi gambar480p
Rasio16:9
Negara produksiIndonesia
Provinsi produksiD.I. Yogyakarta
Rumah produksiInstitut Seni Indonesia Yogyakarta, Otak Otak Film
Tim ProduksiA. Prisha Putri (Produser)Eden Junjung (Penata Gambar)Ayu Indriani (Penata Suara)
  • Ida Farida (Produser Unit Manajer, Penata Artistik)
  • Johan R., Theodorus H. S. (Perekam Gambar)
  • Johan R. (Lighting)
    Edisi Festival
    • FFD 2012 — Kompetisi | Seleksi Resmi
      Foto Film

      Catatan Pengelola

      Gaya DokumenterEkspositoris
      TemaPolitik & Kekuasaan, Seni
      TopikAktivisme, Musik, Seni Jalanan
      Mata pelajaran relevanSeni Budaya, Antropologi, Sosiologi
      Mata kuliah relevanSeni Rupa, Antropologi, Politik

      Film dalam set tema yang sama

      • Vicky Hendri Kurniawan
        Kisah Pak Tumiran yang merantau dan masih menyempatkan diri untuk pulang kampung ke Banyuwangi guna melanjutkan tradisi tahunan Keboan.
      • Kartika Tri Wardani
        Ebeg (kuda lumping) tak hanya bentuk kesenian, namun juga simbol atas laku sadar spiritual sekaligus keagamaan.
      • Akademi Arkipel Collective
        Dalam keadaan terbatas di masa pandemi, film hasil kerja-kolektif 40 orang-an ini menjadi wadah komunikasi antar komunitas dalam ambang ketidakpastian momen melalui pertanyaan, “Bagaimana kabar di sana?”.