
The Myriad of Faces of the Futures Challengers
Segudang Wajah Penantang Masa Depan

Selama Orde Baru (1966-1998) di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, sinema Indonesia mencetak nama-nama besar yang masih dibicarakan hingga kini. Pada masa itu, sensor ketat mengatur narasi di layar, memastikan sudut pandang oposisi hanya muncul dari perspektif pemerintah. Sinema dipakai untuk menjaga ancaman bahaya laten—musuh imajiner yang dikonstruksi rezim. Di tengah kontrol ini, muncul pertanyaan: bisakah sinema mengungkap keresahan zamannya dan mengangkat hal-hal yang tabu dibicarakan?
Detail Film
- Robby Ocktavian (Sound Mixing)
- Luthfan Nur Rochman (Produser Eksekutif)
- Dini Adanurani (Penerjemah)
- Volta Janneva (Desainer Grafis)
- FFD 2022 — Lanskap | Seleksi Resmi
- 2023 — International Film Festival RotterdamOfficial SelectionCinema Regained
- 2022 — Singapore International Film FestivalOfficial SelectionUndercurrent
- 2022 — Festival Film IndonesiaOfficial SelectionFilm Dokumenter Panjang
- 2022 — EXiS Experimental Film and Video FestivalOfficial Selection
Catatan Pengelola
Film dalam set tema yang sama
- Rasa kesendirian yang dialami Moses akibat lockdown COVID-19 di London sedikit terobati dengan percakapan via telepon bersama keluarganya di Indonesia.

- Menceritakan aktivitas biduan dan kesehariannya yang dihadapi saat mereka bekerja sebagai biduan dangdut dan anggung tempat mereka beraksi serta lingkungan mereka.(*)

- Dakwah sudah selesai. Kerumunan jemaah masih berkerumun di sekitaran panggung dakwah. (*)

- Sejarah, Seni","number":"3","randomSeedTtl":"1","no_found_rows":true,"post_status":"publish","paged":1,"post__not_in":[5459],"update_post_meta_cache":false,"update_post_term_cache":false,"tax_query":[{"taxonomy":"tema","field":"name","terms":["<a href=\"https:\/\/filmdokumenter.id\/?taxonomy=tema&term=sejarah\" rel=\"tag\">Sejarah<\/a>","<a href=\"https:\/\/filmdokumenter.id\/?taxonomy=tema&term=seni\" rel=\"tag\">Seni<\/a>"]}]}" data-page="1" data-max-pages="1" data-start="1" data-end="3">


