The Nameless Boy

2017 — 5 menit
Di antara kerumunan orang dan kemarahan, film ini mengajak penonton untuk menilik kembali perkara kemerdekaan berbicara, kekerasan, dan partisipasi dari pantauan sederhana: mata anak kecil.
The Nameless Boy
Akses film ini
Sekilas tentang film

Dalam hiruk-pikuk demonstrasi protes terhadap mantan gubernur DKI Jakarta di suatu waktu tahun 2017, kita mengikuti seorang bocah lelaki yang berjalanan menelusuri kerumunan. Secara langsung, ia dapat mendengar dan melihat kenyataan politik Indonesia yang penuh kekacauan. Bahwa di balik slogan, yel-yel, dan ujaran yang sekilas tak berbahaya, tabir diskriminasi ras dan religius ternyata masih hidup dan terus berkembang.

Pemeringkatan UmurSU
Bahasa AsliIndonesia
TakarirEnglish

Detail Film

WarnaWarna
SuaraStereo
Format TersediaDigital File
Resolusi GambarFull HD
Rasio Gambar16:9
Negara ProduksiIndonesia
Provinsi ProduksiD.K.I. Jakarta
Tim ProduksiM. Haikal A. D. P. (Penata Gambar)Diego Batara Mahameru (Penulis)
    Edisi Festival
    • FFD 2018 — Kompetisi | Jury Special Mention
      Rekam Jejak Festival
      • 2018 — Binisaya Film FestivalOfficial Selection
      • 2018 — Freedom Film FestivalOfficial SelectionCompetition
      • 2018 — ReelOzInd!Special Mention
      • 2017 — Jogja Netpac Asian Film FestivalOfficial SelectionCompetition
      • 2017 — Singapore International Film FestivalOfficial Selection
      Foto Film

      Catatan Pengelola

      Gaya DokumenterObservasional
      TemaMasyarakat
      TopikAgama & Kepercayaan, Identitas
      Mata Pelajaran RelevanPendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Sosiologi, Antropologi
      Mata Kuliah RelevanPsikologi, Komunikasi

      Referensi yang bisa digunakan

      Film dalam set tema yang sama

      • Samuel Paul Manurung
        Ulasan fandom seperti pengalaman suka-duka akibat prasangka orang awam, pemahaman tentang budaya Jepang, dan hubungan antar kelompok penggemar.
      • Yuni Etifah
        Sejak jaman nenek moyang, Desa Grujugan dikenal sebagai pengrajin tudung (topi anyaman bambu) terbesar di Kebumen. (*)
      • Wawan Sumarno
        Tak ada sehelai daun pun yang identik, bahkan pada pohon yang sama sekalipun. (*)