Tumiran

2014 — 46 menit
Kisah Pak Tumiran yang merantau dan masih menyempatkan diri untuk pulang kampung ke Banyuwangi guna melanjutkan tradisi tahunan Keboan.
Tumiran
Akses film ini
Sekilas tentang film

Pak Tumiran adalah seorang nelayan yang tinggal bersama istri dan anak-anaknya di Desa Tanjung Luar, Lombok Timur. Kondisi ekonomi keluarganya tidak menentu; sering kali, ia pulang dari melaut dengan hasil tangkapan yang sangat sedikit.

Meski demikian, setiap tahun Tumiran tetap pulang ke kampung halamannya di Desa Aliyan, Banyuwangi. Ia merupakan bagian dari keluarga pelaku ritual Keboan, sebuah upacara adat di mana peserta mengalami kesurupan dan bertingkah seperti kerbau. Ritual ini dilakukan sebagai ungkapan syukur sekaligus doa agar panen para petani berjalan lancar. Setelah menyelesaikan ritual tahunan tersebut, Tumiran kembali ke Lombok Timur dan melanjutkan kehidupannya sebagai nelayan.

Pemeringkatan Umur17+
Bahasa AsliJawa, Indonesia, Sasak, Using
TakarirBahasa Indonesia

Detail Film

WarnaWarna
SuaraStereo
Format TersediaDigital File
Resolusi GambarFull HD
Rasio Gambar16:9
Negara ProduksiIndonesia
Provinsi ProduksiJawa Timur, Nusa Tenggara Barat
Rumah ProduksiKeboan Production, Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Tim ProduksiVicky Hendri Kurniawan (Produser)Vicky Hendri Kurniawan, Catur Panggih Raharjo, Lutfi Setiyawan, Luthfi Ramadhan, Fajar Yulianto (Penata Kamera)Arief Budiman (Penata Gambar)Randi Pratama (Penata Suara)
  • Dhilla Manik (Penata Musik)
    Edisi Festival
    • FFD 2014 — Kompetisi | Dokumenter Panjang Terbaik
      Rekam Jejak Festival
      • 2014 — Denpasar Documentary Film FestivalBest FilmKompetisi
      Foto Film

      Catatan Pengelola

      Gaya DokumenterObservasional
      TemaMasyarakat, Politik & Kekuasaan, Alam & Lingkungan
      TopikKeluarga, Masyarakat Adat, Pertanian, Tradisi, Migrasi
      Mata Pelajaran RelevanAntropologi, Bahasa Daerah, Seni Budaya
      Mata Kuliah RelevanAntropologi, Sosiologi

      Referensi yang bisa digunakan

      Film dalam set tema yang sama

      • Wisnu Dewa Broto
        Potret sederhana interaksi penagih hutang dengan penunggak di lapangan sebagai usaha kontra-narasi stereotip rasial.
      • Bowo Leksono
        Beberapa daerah di Indonesia mempunyai seni membatik dengan kekhasan masing masing, tak terkecuali Banyumas (*)
      • Diyah Verakandhi
        Perbedaaan karakter tiga orang transgender dengan masalah mereka masing-masing bukan menjadi penghalang untuk tetap menampilkan pertunjukan yang spektakuler di Oyot Godhong Cabaret Show Mirota Batik. (*)