Glass of Bitter Tea

Segelas Teh Pahit

2014 — 15 menit
Marnawi, sosok penjaga tradisi lengger lanang, yang telah menyaksikan pasang surut perjalanan tari lengger.
Glass of Bitter Tea
Akses film ini
Sekilas tentang film

Dokumenter ini mengangkat kisah hidup Marnawi, seorang penari lengger lanang dari Desa Panusupan, Purbalingga, Jawa Tengah. Ia telah menari lengger sejak tahun 1940-an hingga sekarang, meskipun popularitas lengger tidak lagi setinggi dulu. Di tengah meredupnya kesenian ini, Marnawi tetap setia menari, menjaga tradisi yang hampir pudar.

Pemeringkatan umurSU
Bahasa asliJawa
TakarirEnglish

Detail Film

WarnaWarna
SuaraStereo
Format tersediaDigital File
Resolusi gambarFull HD
Rasio16:9
Negara produksiIndonesia
Provinsi produksiJawa Tengah
Rumah produksiPak Dirman Film, SMAN 1 Rembang Purbalingga
DistributorCLC Purbalingga
Kontakfestfilmpurbalingga@gmail.com
Tim ProduksiPuji Rahayuning Pratiwi (Produser)Wendro Tanjung (Penata Kamera)Lilit Widiyanti (Penata Gambar)Anastasya Dyah Tyas Utami, Wendro Tanjung, Lilit Widiyanti, Ela Nurwijayanti, Delviana Kurnia (Periset)Lilit Widiyanti (Penulis)
  • Ela Nurwijayanti (Produser Lini)
    Edisi Festival
    • FFD 2014 — Kompetisi | Seleksi Resmi
      Rekam Jejak Festival
      • 2014 — Festival Film PurbalinggaOfficial SelectionKompetisi
      • 2014 — Malang Film FestivalOfficial SelectionDokumenter Pendek Pelajar
      Foto Film

      Catatan Pengelola

      Gaya DokumenterEkspositoris
      TemaMasyarakat, Seni
      TopikPertanian, Tari, Lansia
      Mata pelajaran relevanSeni Budaya, Sejarah
      Mata kuliah relevanSeni Pertunjukan, Sejarah

      Film dalam set tema yang sama

      • Deden Ramadani
        Dari niatan sekedar membuat kenangan perpisahan angkatan di tahun 2010, film ini memotret usaha dan siasat pelajar SMA menghadapi ujian dengan sistem yang problematis.
      • Suci Dian Kuspitaningsih
        Selayang potret aksi swadaya yang berangkat dari kepedulian antar warga serta keresahan atas pemerintah.
      • J. Hendry Noerman
        Melalui animasi dan narasi reflektif, Identity secara konsisten menyodorkan suatu pertanyaan yang mengusik: apakah identitas benar merupakan jaminan kebebasan?