Rock for Kamtis

2012 — 55 menit
Band punk, Endank Soekamti, mengupas proses dapur rekaman album mereka sembari menyempatkan diri untuk berinteraksi dengan pendengarnya melalui kanal media.
Rock for Kamtis
Akses film ini
Sekilas tentang film

Film ini mengikuti perjalanan sebuah band punk asal Yogyakarta yang bernama Endank Soekamti yang sedang merampungkan album mereka yang kelima. Untuk album itu, mereka memilih merekam album di Semarang. Sembari sibuk di dapur rekaman, Endank Soekamti juga tetap berinteraksi dengan pengikut setianya melalui kanal YouTube dan Twitter. Mereka memperlihatkan proses di balik pembuatan album yang apa adanya, mulai dari pertemanan antar anggota band yang kadang serampangan sampai pembahasan tentang hal-hal teknis terkait alat musik masing-masing.

Pemeringkatan umur21+
SutradaraAgni Tirta
Bahasa asliIndonesia
TakarirEnglish

Detail Film

WarnaWarna
SuaraStereo
Format tersediaDigital File
Resolusi gambarSD
Rasio16:9
Negara produksiIndonesia
Provinsi produksiD.I. Yogyakarta, Jawa Tengah
Rumah produksiEndank Soekamti
Tim ProduksiErix Soekamti (Produser)Agni Tirta (Penata Gambar)
  • Ofan Ahonk Rohadi (Asisten Produksi)
  • Erix Soekamti, Hisam, Andi Bendot, Harwan Aconk P. (Perekam Gambar)
  • Ulfiana Risma (Pembuat Takarir)
    Edisi Festival
    • FFD 2012 — Kompetisi | Seleksi Resmi
      Foto Film

      Catatan Pengelola

      Gaya DokumenterPartisipatoris
      TemaMasyarakat, Seni
      TopikKomunitas, Musik, Media & Teknologi
      Mata pelajaran relevanBroadcasting, Seni Budaya
      Mata kuliah relevanAntropologi, Seni Musik

      Film dalam set tema yang sama

      • Ihsan Aidil Achdiat
        Film dokumenter yang mengorek kompleksitas di balik pasar ikan Tanjung Luar, tempat pendaratan hiu terbesar di seluruh dunia.
      • Di salah satu warnet yang ada di Padang Panjang, seorang pria berumur 20-an tahun membawa kamera video untuk merekam aktivitas anak-anak yang masih berumur belasan tahun yang sedang bermain game online.(*)
      • Kisno Ardi
        Di antara riuhnya pasar, perempuan lanjut usia bekerja dengan risiko tinggi tanpa perlindungan sebagai buruh gendong, demi memenuhi kebutuhan hidup.