The Raging Soil

Marah di Bumi Lambu

2014 — 92 menit
Warga bumi Lambu marah, tanah mereka dijadikan tambang, kantor camat terbakar, tiga orang ditembak aparat.
The Raging Soil
Akses film ini
Sekilas tentang film

Pada 2010 hingga 2012, gelombang demi gelombang demonstrasi warga terjadi di Kecamatan Lambu, Bima, Nusa Tenggara Barat. Mereka menolak izin pertambangan yang akan beroperasi di tanah adat sekaligus sumber penghidupan mereka. Aksi protes ini mencapai puncaknya dalam Tragedi Berdarah Sape-Lambu, di mana tiga nyawa melayang akibat tembakan aparat.

Film ini terbagi dalam empat babak: Prolog, Bumi Lambu, Bumi Kami yang Marah, dan Epilog. Setiap babak menelusuri ingatan para warga yang turut berdemo–mulai dari mahasiswa yang mengoordinasi gerakan, petani yang turun ke jalan, hingga pekerja rumah tangga yang mendukung dari dapur rumah. Dari sana, tersusun gambaran tentang akar konflik, dampak kekerasan yang membekas, serta bagaimana perjuangan terus berlanjut hingga film ini selesai bercerita.

Pemeringkatan Umur17+
Bahasa AsliIndonesia, Bima
TakarirEnglish

Detail Film

WarnaHitam Putih
SuaraStereo
Format TersediaDigital File
Resolusi GambarFull HD
Rasio Gambar16:9
Negara ProduksiIndonesia
Provinsi ProduksiNusa Tenggara Barat
Rumah ProduksiForum Lenteng, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
Tim ProduksiHafiz Rancajale (Produser)Syaiful Anwar (Penata Kamera)Hafiz Rancajale (Penata Gambar)H. Sutan Pamuncak (Penata Suara)
  • H. Sutan Pamuncak (Penata Musik)
  • Roberto Satyadi (Asisten Penata Gambar)
  • Taufik Piet Sukarno (Penerjemah)
    Edisi Festival
    • FFD 2014 — Kompetisi | Seleksi Resmi
      Rekam Jejak Festival
      • 2014 — DMZ International Documentary Film FestivalOfficial SelectionAsian Perspective
      Foto Film

      Catatan Pengelola

      Gaya DokumenterPartisipatoris
      TemaAlam & Lingkungan, Politik & Kekuasaan
      TopikAktivisme, Konflik Tanah, Pertambangan, Kekerasan
      Mata Pelajaran RelevanPendidikan Kewarganegaraan, Ekonomi
      Mata Kuliah RelevanHukum, Politik, Pemerintahan, Pertanian, Ekonomi

      Film dalam set tema yang sama

      • Yuni Etifah
        Sejak jaman nenek moyang, Desa Grujugan dikenal sebagai pengrajin tudung (topi anyaman bambu) terbesar di Kebumen. (*)
      • Bowo Leksono, Heru Catur Wibowo
        Dinamika komunitas pegiat film dengan pemerintah daerahnya terkait keterbatasan ruang apresiasi film.
      • Tedika Puri Amanda, Kukuh Martha Afni
        Pengelolaan sumber daya alam di suatu area acapkali gagal memberikan nilai tambah bagi kehidupan penduduk di sekitarnya. (*)