The Raging Soil
Marah di Bumi Lambu

Pada 2010 hingga 2012, gelombang demi gelombang demonstrasi warga terjadi di Kecamatan Lambu, Bima, Nusa Tenggara Barat. Mereka menolak izin pertambangan yang akan beroperasi di tanah adat sekaligus sumber penghidupan mereka. Aksi protes ini mencapai puncaknya dalam Tragedi Berdarah Sape-Lambu, di mana tiga nyawa melayang akibat tembakan aparat.
Film ini terbagi dalam empat babak: Prolog, Bumi Lambu, Bumi Kami yang Marah, dan Epilog. Setiap babak menelusuri ingatan para warga yang turut berdemo–mulai dari mahasiswa yang mengoordinasi gerakan, petani yang turun ke jalan, hingga pekerja rumah tangga yang mendukung dari dapur rumah. Dari sana, tersusun gambaran tentang akar konflik, dampak kekerasan yang membekas, serta bagaimana perjuangan terus berlanjut hingga film ini selesai bercerita.
Detail Film
- H. Sutan Pamuncak (Penata Musik)
- Roberto Satyadi (Asisten Penata Gambar)
- Taufik Piet Sukarno (Penerjemah)
- FFD 2014 — Kompetisi | Seleksi Resmi
- 2014 — DMZ International Documentary Film FestivalOfficial SelectionAsian Perspective
Catatan Pengelola
Film dalam set tema yang sama
- Sejak jaman nenek moyang, Desa Grujugan dikenal sebagai pengrajin tudung (topi anyaman bambu) terbesar di Kebumen. (*)

- Dinamika komunitas pegiat film dengan pemerintah daerahnya terkait keterbatasan ruang apresiasi film.

- Pengelolaan sumber daya alam di suatu area acapkali gagal memberikan nilai tambah bagi kehidupan penduduk di sekitarnya. (*)

- Alam & Lingkungan, Politik & Kekuasaan","number":"3","randomSeedTtl":"1","post_status":"publish","paged":1,"post__not_in":[1645],"tax_query":[{"taxonomy":"tema","field":"name","terms":["<a href=\"https:\/\/filmdokumenter.id\/?taxonomy=tema&term=alam-lingkungan\" rel=\"tag\">Alam & Lingkungan<\/a>","<a href=\"https:\/\/filmdokumenter.id\/?taxonomy=tema&term=politik-kekuasaan\" rel=\"tag\">Politik & Kekuasaan<\/a>"]}]}" data-page="1" data-max-pages="33" data-start="1" data-end="3">





