Berbicara tentang romantic comedy—atau romcom—kita sering membayangkan film fiksi dengan alur penuh keajaiban kecil, dinamika pasangan yang menggemaskan, dan akhir yang hampir selalu menggembirakan. Namun, bagaimana jika romcom tidak dibentuk oleh alur skenario, melainkan tumbuh dari kehidupan sehari-hari? Bagaimana jika kita tidak hanya melihat romcom sebagai genre hiburan ringan, tetapi juga sebagai cara untuk membaca relasi manusia dengan kehangatan, keraguan, dan humor yang tidak dibuat-buat?
Pada program bulan Mei 2025 ini, filmdokumenter.id mencoba membayangkan ulang romcom dalam bentuk dokumenter. Bukan untuk meninggalkan akar genre romcom tersebut, tetapi justru untuk memperluas kemungkinan maknanya. Ketiga film dalam set program ini tidak menawarkan alur dramatis atau klimaks yang memikat secara konvensional. Sebaliknya, mereka merekam cinta dalam bentuk yang cair: lewat keintiman yang muncul dalam percakapan, kegugupan, rindu yang tak selesai, hingga dilema memilih atau menerima orang lain—dan diri sendiri.
Film pertama, A Letter to My Wife (Muhamad Ardan Ar’razaq, 2021) menceritakan kisah kerinduan Muhtadi, seorang tukang pijat keliling, terhadap istrinya yang merantau ke luar negeri dan menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW). Kerinduan ini disampaikannya dengan menyanyikan lagu “Layang Kangen” dari Didi Kempot. Dalam banyak romcom, rindu biasanya diakhiri dengan pertemuan. Tapi tidak di sini. Muhtadi hanya bisa menunggu sambil terus menyanyikan dan mendengarkan lagu-lagu dengan nuansa kerinduan sambil mencuci pakaian atau melinting rokok. Muhtadi bahkan tidak menemui titik terang tatkala ia terus menelepon istrinya–yang ada hanya suara dering yang panjang dan repetitif. Tidak ada akhir yang bahagia seperti dalam romcom. Justru, rindu dan cinta ia suarakan tanpa pretensi dan mengalir dalam kehidupan sehari-hari bersama anak dan ibunya. Di situ pula kasih muncul—bukan sebagai penyelesaian konflik, tetapi sebagai kerja harian yang sunyi, yang tulus.
Sama halnya dengan “A Letter to My Wife”, Bibi Siti Switi (Cynthia Natalia, 2015) juga menggunakan lagu sebagai penggerak narasi. Dalam “Bibi Siti Switi”, Siti, seorang pekerja rumah tangga (PRT) di Jakarta, berkaraoke lagu “Pacar Dunia Akhirat” dari Rita Sugiarto di awal film. Lagu ini kemudian muncul kembali di beberapa bagian film–menggambarkan suasana hati dan percintaannya dengan tiga pria sekaligus: mencari siapa yang harus ia pilih untuk menjadi pacar dunia akhirat. Sepanjang film, kita melihat kisah cinta Siti yang rumit, lucu dan tak terduga. Jika dalam romcom, tokoh PRT hanya muncul sebagai figuran–ia muncul sebagai pendengar curhatan majikannya yang sedang dimabuk cinta, menyuguhkan teh, lalu menghilang–maka dalam film ini, justru Siti yang menjadi pusat cerita. Romcom ini tidak berjarak dari kenyataan kelas sosial, namun berakar di dalamnya.
Berbeda dengan “A Letter to My Wife” dan “Bibi Siti Switi” yang dipenuhi lagu, 400 Words (Ismail Basbeth, 2013) sama sekali tidak menggunakan lagu. Dalam romcom konvensional, pernikahan sering muncul sebagai klimaks yang manis: lamaran, ciuman, lalu tirai tertutup. Akan tetapi, “400 Words” justru membawa kita ke obrolan makan siang yang membicarakan seserahan, di mana perbedaan nilai keluarga hingga gesekan budaya tersingkap. Di film ini, cinta tidak tampil sebagai janji bahagia, melainkan sebagai proses tawar-menawar untuk mencari kesepakatan. Pada akhirnya, pernikahan jadi bahan refleksi bersama seluruh kru film.
Lewat pendekatan dokumenter, masing-masing film menciptakan ruang yang lebih luwes dan tidak dibatasi oleh tuntutan narasi yang rapi. Film-film ini menangkap hal-hal kecil yang justru menjadi pusat pengalaman relasi romantis. Dengan membayangkan ulang romcom sebagai cara untuk merasakan kasih dalam bentuk yang lebih luas, set program ini menawarkan sudut pandang baru dalam melihat cinta—sebagai sesuatu yang kompleks dan cair. Cinta bukan tentang mencari pasangan ideal, tetapi tentang bagaimana kita saling memahami, tanpa naskah dan tanpa jaminan akhir bahagia.


