Bioskop Kita Lagi Sedih

2006 — 30 menit
Dinamika komunitas pegiat film dengan pemerintah daerahnya terkait keterbatasan ruang apresiasi film.
Bioskop Kita Lagi Sedih
Akses film ini
Sekilas tentang film

Tidak bisa dipungkiri bahwa CLC Purbalingga merupakan salah satu komunitas/organisasi film penting di Indonesia, mengingat konsistensinya membangun pendidikan film pelajar di Jawa Tengah, khususnya di wilayah Banyumas Raya. Bermula sejak 4 Maret 2006, 5 komunitas film di Purbalingga melebur dan menjadi cikal bakal berdirinya CLC (Cinema Lovers Community) Purbalingga. Lewat program “Bioskop Kita” saat itu, mereka menyajikan pemutaran film independen di Graha Adiguna, kompleks pendapa Bupati Purbalingga. Namun, keterbukaan pemerintah daerah ini rupanya berlangsung singkat. Pada bulan ke-3, akses CLC Purbalingga ke Graha Adiguna tiba-tiba dihalang-halangi. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana CLC Purbalingga, publik, maupun pemerintah daerah merespon peristiwa tersebut?

Pemeringkatan UmurSU
Bahasa AsliIndonesia

Detail Film

WarnaWarna
SuaraStereo
Format TersediaDigital File
Resolusi Gambar288p
Rasio Gambar4:3
Negara ProduksiIndonesia
Provinsi ProduksiJawa Tengah
Rumah ProduksiCLC Purbalingga
DistributorCLC Purbalingga
Kontakfestfilmpurbalingga@gmail.com
Tim ProduksiBowo Leksono, Heru Catur Wibowo (Penata Kamera)Heru Catur Wibowo, Bowo Leksono (Penata Gambar)
  • Joko Susilo H.P. , Putri Fatihah, Mohamad Febriyanto (Perekam Gambar)
    Edisi Festival
    • FFD 2006 — Kompetisi | Dokumenter Pemula Terbaik
      Foto Film

      Catatan Pengelola

      Gaya DokumenterPerformatif
      TemaMasyarakat, Politik & Kekuasaan, Seni
      TopikAktivisme, Film & Video, Kebijakan Pemerintah, Komunitas, Media & Teknologi
      Mata Pelajaran RelevanSosiologi, Seni Budaya
      Mata Kuliah RelevanPolitik, Film dan Pertelevisian

      Film dalam set tema yang sama

      • Nanda Taufik Hidayat
        Kabar para pemuda mantan pembuat film pelajar yang merenungkan kembali pengaruh sinema di kehidupan sosial.
      • Skolastika Lupitawina
        Dokumenter performatif yang memotret upaya Tika dalam menyelami siklus memori terhadap Ute, pengasuhnya semasa ia kecil hingga remaja.
      • Kiki Febriyanti
        Suharto dan Rufiana adalah mantan penderita gangguan jiwa yang sembuh setelah menjalani terapi di pesantren Al-Ghatur Bondowoso. (*)