Wheels Under the Lion’s Foot

Roda di Bawah Kaki Singa

2010 — 67 menit
Setelah peluncuran Free Trade Zone (FTZ) oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Januari 2009 lalu, generasi muda Batam saat ini berkutat dengan tingginya biaya hidup dengan masa depan sebagai tenaga kerja murah bagi Singapura.(*)
Wheels Under the Lion’s Foot
Sekilas tentang film

Setelah peluncuran Free Trade Zone (FTZ) oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Januari 2009 lalu, generasi muda Batam saat ini berkutat dengan tingginya biaya hidup dengan masa depan sebagai tenaga kerja murah bagi Singapura. Belum lagi soal invasi ekonomi lainnya. Batam masa kini adalah sebuah titik cahaya yang diburu orang-orang dengan satu harapan; perbaikan ekonomi.(*)

Pemeringkatan Umur13+
Bahasa AsliIndonesia
TakarirEnglish

Detail Film

WarnaWarna
SuaraStereo
Format TersediaDigital File
Resolusi GambarSD
Rasio Gambar4:3
Negara ProduksiIndonesia
Provinsi ProduksiKepulauan Riau
Rumah ProduksiYayasan Kampung Halaman
Tim ProduksiAnton Susilo (Penata Kamera)Herman (Penata Gambar)Anton Susilo (Penata Suara)Kampung Halaman, IPMKR-Y, Dave Lumenta (Periset)
    Edisi Festival
    • FFD 2010 — Kompetisi | Seleksi Resmi
      Foto Film

      Catatan Pengelola

      Gaya DokumenterEkspositoris
      TemaPolitik & Kekuasaan
      TopikMigrasi, Kebijakan Pemerintah, Sistem Ekonomi
      Mata Pelajaran RelevanAntropologi, Pendidikan Kewarganegaraan, Sosiologi
      Mata Kuliah RelevanAntropologi, Hubungan Internasional, Sosiologi

      Film dalam set tema yang sama

      • Harryaldi Kurniawan
        Kisah perihal objektifikasi tubuh perempuan untuk mempertahankan budaya patriarki di pabrik tembakau pada masa kolonial.
      • Andang Kelana, Badrul Munir, Fuad Fauji, Hafiz Rancajale, Syaiful Anwar
        Potret arus hidup pemuda dan cita-citanya dalam ruang sub-urban, sepuluh tahun setelah berakhirnya rezim Orde Baru.
      • Eden Junjung
        Digie Sigit adalah seorang tokoh yang memiliki pemikiran dan kepeduliannya akan masalah social politik khususnya terhadap buruh dengan cara menghasilkan karya-karya stencil di ruang-ruang public dan berorasi di atas panggung bersama grup musiknya TeknoShit. (*)